Friday, October 30, 2015

Not a Hero, but a Saint



All Saints’ Day
November 1, 2015
Matthew 5:1-12a

“Blessed are they who are persecuted for the sake of righteousness, for theirs is the kingdom of heaven (Mat 5:10).”

Today, the Church is celebrating the Solemnity of All Saints. They are those people who have gone ahead of us and by the grace of God and their merits, have received the eternal life in God. While enjoying their everlasting happiness with God, we believe that they are also constantly praying for us here on earth and those souls in purgatory. The Church has recognized some of her children as the saints through the process of canonization, like recently canonized St. John Paul II and St. Pedro Calungsod of the Philippines. However, we believe that through God’s mercy, even more souls are in eternal bliss, even though we do not know who they are.
The word saint, in fact, is coming from Latin word, Sanctus, meaning ‘holy’. And, the Church reminds us that all of us are called to be saints, that our vocation is holiness. Thus, by celebrating All Saints’ Day, we turn our eyes to the saints who serve as our models in life of holiness. In certain sense, our saints are heroes. They embodied the spirit of courage and loyalty in the midst of extreme difficulties and dangers. St. Stephen, our first martyr, refused to deny his faith despite being stoned to the death. St. Maximillian Kolbe bravely traded his own life with a young father who was about to be executed in a Nazi’s concentration camp.
However, being a hero is not totally the same with being a saint. A hero in every story, serve as the main character, the main protagonist. Without a hero a story or movie loses its face. Normally, a hero is set against a villain, antagonist, or anti-hero. To turn the movie into a super-movie, then make the hero into superhero, and his enemy the super-villain. Superman needs brilliant Lex Luthor, twisted Bizarro, and powerful Doomsday to beat. Spiderman fights mighty Green Goblin, venomous Venom and cunning Dr. Octopus. The main idea is that heroes has face almost unsurmountable difficulties, yet they prevail in the end. The hero must not lose, because if he fails, the story ends in tragedy.
Unlike heroes, saints are not the central figure of the story. Saints do not need to fight enemies and be triumphant. Some saints, indeed, combated the devil and his cohorts, like St. Benedict of Nursia and St. Anthony of the Desert, but that is not their primary mission. In the eyes of the world, many of the saints are actually losers. They are beaten down, stricken badly and hit by so many trials. The martyrs are just hapless Christians who did not know to fight back and thus, were executed. St. Dominic must be a rather boring man who only spoke to God and about God. It must be difficult to mingle with St. Thomas Aquinas who spent practically his life teaching and writing about God. St. Bernadette Soubirous, who received the appearance of the Immaculate Conception in Lourdes, had to suffer a lot of illness including extremely painful tuberculosis of the bone until her death. Yet, their losses and failures are not a tragedy, because through these difficulties, their lives are no longer pointing to themselves but to God. They must decrease and God must increase.
A mother who wakes up early in the morning, prepares breakfast for the family, brings their children to the school, work until late afternoon, and still cook dinner, is a hero. But, a mother who does the same sacrifices and yet teaches their children to pray and give thanks always to God for the little things they have, is a saint. We are called to be saints, and basically, to become a saint is to allow our lives to point to God, instead to point to ourselves. Let us learn from the example of our saints in heaven and continue to ask their prayers.
All the Saints in heaven, pray for us!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukanlah Seorang Pahlawan, Melainkan Seorang Kudus



Hari Raya Semua Orang Kudus
1 November 2015
Matius 5:1-12a

Bahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Mat 5:10).

Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Mereka adalah orang-orang yang telah pergi dari dunia ini, dan oleh rahmat Tuhan dan juga kebaikan mereka, telah menerima hidup yang kekal di dalam Tuhan. Sambil menikmati kebahagiaan abadi mereka, kita percaya bahwa mereka juga terus berdoa untuk kita yang masih ada di bumi ini dan juga jiwa-jiwa di api penyucian. Gereja telah mengakui beberapa anak-anaknya sebagai orang kudus melalui proses kanonisasi, seperti baru-baru ini dikanonisasi Santo Yohanes Paulus II dan Santo Pedro Calungsod dari Filipina. Namun, kita percaya bahwa karena rahmat Allah yang tak terbatas, sangat banyak jiwa-jiwa hidup dalam kebahagiaan kekal, meskipun kita tidak tahu siapa mereka.
Kata Santo dan Santa, pada kenyataannya, berasal dari kata Latin, Sanctus, yang berarti kudus’. Dan, Gereja mengingatkan kita bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus seperti halnya mereka. Dengan demikian, dengan merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, kita mengarahkan mata kita kepada para Santo-Santa yang menjadi model kita dalam hidup kekudusan. Dalam arti tertentu, orang-orang kudus adalah seorang pahlawan. Mereka diwujudkan semangat keberanian dan kesetiaan di tengah-tengah kesulitan dan bahaya yang ektrim. St. Stephanus, martir pertama, menolak untuk menyangkal imannya meskipun dilempari batu sampai mati. St. Maximillianus Kolbe berani menukar hidupnya dengan seorang ayah muda yang hendak dieksekusi di kamp konsentrasi Nazi.
Namun, menjadi pahlawan tidak sama dengan menjadi orang kudus. Seorang pahlawan di setiap cerita, berfungsi sebagai karakter pertama, protagonis utama. Tanpa pahlawan cerita atau film kehilangan wajahnya. Biasanya, agar cerita menjadi hidup dan menarik, pahlawan akan melawan penjahat atau antagonis. Untuk menjadikan sebuah film menjadi film yang super, kemudian membuat pahlawan menjadi superhero, dan musuhnya menjadi super-villain. Superman memerlukan Lex Luthor yang brilian, Bizarro yang gila, dan Doomsday yang kuat untuk dikalahkan. Spiderman akan melawan Green Goblin, Venom yang berbisa dan Dr. Octopus yang licik. Ide utamanya adalah bahwa pahlawan akan menghadapi kesulitan yang sangat dasyat, namun mereka akan menang pada akhirnya. Pahlawan tidak boleh kalah, karena jika ia gagal, cerita berakhir dengan tragedi.
Tidak seperti pahlawan, orang-orang kudus bukanlah tokoh sentral dari cerita mereka. Para kudus tidak perlu melawan musuh dan menang. Beberapa orang kudus, memang, memerangi iblis dan para pengikutnya, seperti St. Benediktus dari Nursia dan St. Anthonius dari Mesir, tapi itu bukan misi utama mereka. Di mata dunia, banyak dari orang-orang kudus sebenarnya adalah pencundang. Mereka kalah, gagal dan terkena begitu banyak cobaan. Para martir adalah umat Kristiani yang malang yang tidak tahu untuk membela diri dan akhirnya dieksekusi. St. Dominikus de Guzman pastinya adalah seorang yang agak membosankan karena ia hanya berbicara kepada Allah dan tentang Tuhan. Pasti sulit untuk berbaur dengan St. Thomas Aquinas yang menghabiskan hampir hidupnya untuk mengajar dan menulis tentang Tuhan. St. Bernadette Soubirous, yang menerima penampakan Maria Bunda yang tak Bernoda di Lourdes, menderita banyak penyakit termasuk TBC tulang yang sangat menyakitkan sampai kematiannya. Namun, kekalahan dan kegagalan mereka tidak menjadi sebuah tragedi, karena melalui kesulitan-kesulitan ini, kehidupan mereka tidak lagi menunjuk ke diri mereka sendiri tetapi kepada Allah. Mereka harus semakin kecil dan Allah harus semakin besar. Tuhan adalah pusat dari cerita hidup mereka,
Seorang ibu yang bangun pagi-pagi buta, mempersiapkan sarapan untuk keluarganya, membawa anak-anak mereka ke sekolah, bekerja hingga sore hari, dan masih memasak makan malam, adalah seorang pahlawan. Tapi, seorang ibu yang melakukan pengorbanan yang sama dan juga mengajarkan anak-anak mereka untuk berdoa dan bersyukur selalu kepada Allah untuk hal-hal kecil yang mereka miliki, adalah seorang kudus. Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus, dan pada dasarnya, untuk menjadi orang kudus adalah untuk memungkinkan hidup kita menjadi petunjuk kepada Allah, bukan untuk menunjuk ke diri kita sendiri. Mari kita belajar dari teladan orang kudus kita di surga dan terus memohon doa-doa mereka.
Semua Para Kudus di surga, doakanlah kami!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP