Saturday, November 1, 2014

Lebih Besar dari Kematian



Peringatan Mulia Arwah Semua Orang Beriman
2 November 2014
Yohanes 6:37-40

Masa SMP saya di Bandung diwarnai oleh lagu-lagu yang berasal dari boy band Amerika, Backstreet Boys. Salah satu hits yang saya selalu ingat adalah “Larger than Life”. Lagu ini mencerminkan bahwa ada sesuatu yang secara signifikan mempengaruhi dan mengubah kehidupan kita, dan ini mungkin terjadi karena hal ini sungguh lebih besar dari kehidupan kita. Ini tidak lain adalah cinta kasih. “All you people can't you see, can't you see, How your love's affecting our reality, Every time we're down, You can make it right, And that makes you larger than life.”
Namun, cinta tidak hanya lebih besar dari kehidupan. Cinta bahkan lebih besar dari hal yang mengakhiri hidup kita: kematian.  Sangat wajar jika kita mengharapkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai. Karena kita mengasihi mereka, kita tidak ingin mereka terluka, sakit ataupun jauh dari kita. Kita ingin mereka selalu baik, sukses dan bahagia. Namun, sebagai manusia, kita harus merangkul keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita. Kita tidak bisa mencegah orang yang kita cintai terluka, kecewa dan jauh dari kita. Akhirnya, kematian pun tidak dapat dihindari dan membawa akhir pada kehidupan fana dan hubungan kita di dunia ini.
Namun, sekali lagi, cinta kita menolak untuk menyerah. Kita tetap mengasihi bahkan saat kematian berdiri di antara kita dan mereka yang kita kasihi. Dalam suratnya, Paulus berbicara tentang cinta kasih yang tidak berkesudahan, dan tentunya kematian tidak akan pernah bisa mengakhirinya (lih 1 Kor 13). Lalu, bagaimana cinta kita benar-benar lebih besar dari kematian? Ini terjadi di dalam doa! Dalam doa, cinta kasih merenggangkan kita bahkan melampaui dinding tebal kematian, dan menyatukan kita dengan mereka yang kita cintai. Kita berdoa bagi mereka karena kita mencintai mereka. Kita berharap bahwa mereka dapat menerima kebahagian kekal, dan pada waktu-Nya, kitapun dapat bersatu kembali dengan mereka. Dari perspektif ini, doktrin api penyucian bukanlah  sekedar produk dari penelitian alkitabiah dan teologis yang berbelit-belit, tapi sungguh menjadi ekspresi alami cinta kasih kita yang tak terbatas dalam Kristus.
Cinta kita untuk saudara-saudari kita yang telah meninggal sungguh penting dalam iman Katolik. Kita menyebut mereka yang berada di api penyucian sebagai anggota Gereja yang menderita dan mereka yang berada di surga sebagai umat dari Gereja Jaya. Meskipun menghadapi kematian biologis, mereka tidak pernah keluar dari persekutuan, mereka tetap anggota Gereja yang penuh, dan mereka tidak jauh dari kita! Kedekatan kita dengan mereka terlihat dalam praktik tahunan dimana kita mengunjungi makam keluarga kita tercinta. Gereja telah menetapkan hari khusus sehingga semua umat bisa bersama-sama mendoakan arwah-arwah di api pencucian. Di Filipina, pada tanggal 1 dan 2 November, warga dalam jumlah yang sangat besar berbondong-bondong mengunjungi kuburan, dan pemakaman yang biasanya sepi pun menjadi sangat ramai. Karena ini, pemerintah harus mendeklarasikan dua hari ini sebagai hari libur nasional.
St. Paulus dengan berani menulis bahwa bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8: 38-39). Sungguh, cinta lebih besar dari kehidupan dan bahkan kematian.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No comments:

Post a Comment