Saturday, June 22, 2013

Realitas Salib



Minggu Ke-12 dalam Masa Biasa
23 Juni 2013
Lukas 9:18-24

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk 9:24)”

Hari ini, Yesus mengajarkan kita bagaimana menghadapi penderitaan. Hanya dua kata: Rangkullah mereka! Hal ini mungkin terdengar sangat salah. Tentu, sebagai manusia, kita selalu menghindari rasa sakit dan ingin selalu bahagia. Ini mengapa kita menyukai cerita-cerita klasik (seperti Cinderella, Snow White, dll) yang berakhir dengan pernikahan dan kedua karakter utamanya hidup bersama bahagia selamanya. Maka, saat Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk “menyangkal diri mereka dan memikul salib mereka setiap hari”, Yesus sepertinya tidak begitu waras. Sungguhkah demikian?
Mari kita melihat realitas salib pada zaman Yesus. Disalib adalah cara yang paling brutal dan memalukan untuk menghukum seorang penjahat. Setiap ancaman bagi Kekaisaran Romawi tidak hanya akan dipaku di batang kayu salib tetapi juga menjadi tontonan khalak ramai. Para korban akan mati perlahan-lahan karena mereka pelan-pelan kehilangan darah dan air. Tidak hanya sangat menyiksa bagi yang tergantung di pohon, tetapi juga menyakiti perasaan orang yang dicintai melihat dia tergantung dan putus asa. Penyaliban pasti menuju kematian, tapi semakin lama penderitaan yang ditimbulkan semakin baik pula penyaliban itu.
Sekarang, realitas salib menjadi sangat jelek ketika Yesus, Tuhan kita, dengan bebas memilih untuk menerimanya dan mati dengan salib. Apakah Dia cukup gila ketika ia memutuskan untuk mengambil bagian terburuk dari kematian? Apakah dia cukup gila untuk mempromosikan hal ini kepada para pengikutnya?
Kita kehilangan maknanya jika kita hanya terpusat pada penderitaan itu sendiri. Mari kita lihat gambaran yang lebih besar. Teologi Kristiani menjelaskan bahwa penderitaan dan kematian adalah konsekuensi dari dosa kita. Karena semua orang melakukan dosa, penderitaan adalah nasib kita. Dalam Kemurahan-Nya, Tuhan selalu dapat menghapus penderitaan, tetapi Dia tidak melakukannya. Kenapa? St. Paulus memiliki jawabannya: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah (1 Kor 1:18).”
Dengan merangkul salib, Yesus membuat penderitaan sumber perkembangan, kebijaksanaan dan bahkan kekudusan. Fokus sebuah salib bukanlah pada pada penderitaan itu sendiri, melainkan pada Allah yang tergantung di sana. Bukan paku yang menahan Yesus di kayu salib, tetapi kasih. Kita diajak untuk melihat Allah bahkan di saat-saat paling suram kehidupan. Ketika seorang ibu mengetahui bahwa putri satu-satunya hanya hamil di luar nikah, ia bisa memilih untuk menghujat Allah. Namun, iapun bisa menemukan Tuhan dalam putrinya yang menolak untuk menggugurkan sang bayi dan dalam komunitas Kristiani yang selalu mendukung.
Salib bukanlah tentang penderitaan, tetapi bagaimana kita menemukan Allah dalam penderitaan dan membuat salib sungguh berbuah.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No comments:

Post a Comment