Saturday, September 13, 2014

Mengapa Salib?



September 14, 2014
Yohanes 3: 14-17

"... Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 14-15)."

Salib selalu dikaitkan dengan agama dan umat Kristiani. Namun, dari sekian banyak simbol, mengapa harus salib? Jika kita melihat salib dari sudut pandang orang-orang yang hidup di zaman Yesus, salib adalah sebuah metodologi penyiksaan yang sangat kejam dan mengerikan. Salib adalah hukuman mati bagi para pemberontak dan pembuat onar terhadap otoritas kekaisaran Romawi kuno. Coba kita bayangkan sekarang penderitaan yang terjadi saat penyaliban: paku raksasa dan berkarat (karena dipakai berulang-ulang) menembus tangan dan kaki kita; tubuh kita ditelanjangi dan digantung pada sebuah kayu besar, kitapun dipanggang dibawah terik matahari dan membeku oleh angin malam yang sangat dingin; perlahan-lahan tubuh kita kehilangan darah, air dan nafas, sementara lapar dan dahaga menyiksa perut dan tenggorokan. Yang lebih menyiksa adalah kita menjadi tontonan masa dan terkadang sanak keluarga dipaksa menonton proses penyaliban sampai akhir. Kita beruntung jika kita meninggal secara cepat, tapi terkadang kita akan tergantung selama beberapa hari sebelum kita menemui ajal kita. Salib menjadi simbol sempurna dari sikap brutal dan kebiadaban manusia.
Namun, zaman telah berubah. Kaum muda di berbagai negara dengan bangga mengenakan kalung salib di leher mereka, entah sebagai devosi atau sekedar fasion. Salib juga menandai bangunan Gereja dan berbagai institusi Katolik. Setelah dua ribu tahun, salib telah dilucuti dari kebrutalannya dan kita telah kehilangan pandangan tentang realitas terdalam dari sebuah salib. Sementara kita, umat Katolik, mempertahankan corpus (tubuh Yesus) yang tersalib, saudara-saudara kita Protestan telah memisahkan Yesus dari salib. Alasan mereka sangat logis: Yesus telah bangkit dan Dia sudah tidak ada lagi di salib. Juga terkesan bahwa umat Katolik senang untuk mengabadikan penderitaan Kristus di salib.
Hari ini, kita menghormati salib suci, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri kita sendiri mengapa kita perlu menghormati salib dan menempatkannya di tengah-tengah kehidupan kita. Saya tidak punya niat untuk mengembalikan kekejaman salib, tidak juga untuk menyalibkan Yesus sekali lagi, tapi kita bisa menemukan keindahan dari sebuah Salib Suci. Pertama, salib tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Almarhum Uskup Fulton Sheen dari Amerika, salah satu uskup pertama yang menggunakan media massa untuk pewartaan, mengingatkan kita bahwa Yesus tanpa salib adalah Allah yang jauh dan asing, dan salib tanpa Yesus adalah hanya sebuah tanda kekejaman manusia. Sentimen yang sama juga dimiliki oleh umat Katolik perdana. Pada saat Pentakosta yang pertama di Yerusalem, Santo Petrus berkhotbah tentang iman kepada Yesus yang disalibkan (Kis 4:10) dan di suratnya, St. Paulus mengingatkan kita bahwa ia hanya mewartakan Kristus dan Dia yang tersalibkan (lih 1 Kor 1:22). Jika kita menganalisis keempat Injil, kita menyadari bahwa tidak semua penginjil menulis kisah kelahiran Yesus (hanya Matius dan Lukas), tapi empat penulis suci setuju untuk menempatkan Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan Yesus sebagai pusat tulisan-tulisan mereka. Kita mencatat juga bahwa meskipun salib muncul di semua Injil, penginjil tidak tertarik pada kekejaman berdarah di kayu salib, tetapi fokus pada Yesus yang mengasihi kita sampai akhir. Sejak itu, kata “kerygma” mengacu pada inti pewartaan Kristiani yang merupakan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.
Kedua, salib tidak dapat dipisahkan dari umat Kristiani. Yesus menuntut murid-muridnya untuk memikul salib mereka sehari-hari (Luk 9:23). Mengikuti Yesus bukanlah jalan yang mudah. Ini adalah jalan salib. Untuk mentolerir musuh-musuh kita sangat sulit, tapi Yesus ingin kita mengasihi mereka! Untuk membantu diri kita sendiri kadang-kadang melelahkan, namun Yesus meminta kita untuk juga memberikan tangan Anda kepada orang-orang miskin di sekitar kita.
Kita menghormati salib suci, bukan karena kita memuja kekejaman yang dibawanya, tetapi karena Tuhan ada di sana. Salib mendorong kita untuk mengasihi melebihi diri kita sendiri. Hanya karena kasih, kita menemukan keselamatan kita. St. Yohanes dari Salib telah mengatakan bahwa pada akhir hidup kita, kita akan diadili oleh seberapa besar kita mengasihi. Romo Nicanor Austriaco, OP, seorang ahli mikrobiologi dan pakar etika dari Amerika, mengusulkan bahwa pada akhir hidup kita, Yesus akan menyodorkan pertanyaan yang sama Dia ditujukan kepada Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku?”  Dan kita hanya bisa menjawab pertanyaan ini jika kita telah memanggul salib kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No comments:

Post a Comment