Saturday, March 8, 2014

Perziarahan Hati



Minggu Pertama Pra-Paskah
9 Maret 2014
Matius 4:1-11

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun…(Mat 4:1)”

Seorang rahib pernah berkata bahwa kita perlu mengunjungi tempat baru setidaknya setahun sekali. Awalnya, ide ini biasa-biasa saja. Saya senang berkunjung ke berbagai tempat dan satu lokasi baru setahun sepertinya bukan hal yang mustahil. Namun, mengapa seorang rahib, yang bahkan tidak pernah keluar dari pertapaannya, menyarankan ide ini? Hidup di dalam pertapaan yang kecil, dia bisa melihat semua sudut pertapaannya kurang dari seminggu! Saya menyadari bahwa ini bukanlah perjalan biasa. Ini tidak hanya tentang berwisata ke tempat menakjubkan seperti Piramida Giza di Mesir atau Menara Eifel di Paris, tapi sebuah perziarahan menuju hati kita yang terdalam. Bahkan, ini adalah perjalan yang paling sulit dan langka bagi kita, manusia modern!
Kita adalah manusia generasi kontemporer, biasanya juga dijuluki generasi digital’. Orang-orang dewasa yang berusaha untuk beradapatasi teknologi-teknologi baru disekitarnya disebut sebagai  ‘digital migrants’, sedangkan anak-anak yang lahir dengan gadget-gadget ini disebut ‘digital natives’. Apakah kita adalah migrant ataupun native, kenyataannya adalah bahwa kita tidak bisa lepas dari jerat perangkat nirkabel ini. Seorang teman yang juga seorang manajer di sebuah bank, menceritakan bagaimana dia menerima 200 email setiap paginya. Sudah lazim untuk melihat anak-anak kecil di Metro Manila begitu asyik bermain dengan iPad atau Tablet mereka sampai melupakan hal lainnya. Saya sendiri bersalah dalam hal ini karena saya menghabiskan waktu saya di depan laptop hanya untuk menyelesaikan refleksi ini!
Rekan-rekan terkasih, kita memasuki Masa Prapaskah dan Yesus mengundang kita untuk berjalan ke tempat yang tidak biasa, sebuah padang gurun. Saya belum pernah melihat gurun, tapi kita bisa berasumsi bahwa ini adalah tempat yang penuh kesunyian dan di mana kehidupan menghadapi bentuk paling sederhananya. Kita perlu menghabiskan ribuan dolar untuk pergi ke Tanah Suci dan mengalami padang gurun karena ada tempat dalam diri kita yang bisa kita sebut sebagai padang guru: hati kita sendiri. Namun, masalah besar yang kita hadapi adalah sebagai generasi digital, kita mudah terganggu. Teknologi disekitar kita sungguh menguntungkan bagi kehidupan manusia, tetapi mereka membawa kita lebih jauh dari diri kita sendiri. Benar, sekarang walaupun tinggal di Manila, saya bisa dengan mudah berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia melalui BlackBerry, tetapi karenanya hampir setiap jam, saya selalu tergoda untuk melihat BB saya tersebut, walaupun tidak ada pesan di dalamnya. Manusia-manusia modern seperti kita lebih peduli dengan apa yang kita pegang di tangan daripada apa yang ada dalam hati kita.
Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk menyisihkan identitas post–modern’ kita, meninggalkan perangkat nirkabel kita sejenak, dan masuk ke dalam keheningan hati. Di padang gurun, kita mungkin menemukan hasrat-hasrat kita yang tidak murni, menemukan bagaimana lemahnya kita dan bahkan melihat iblis bekerja di dalam kita. Namun, tanpa perjalanan ini, kita tidak pernah menemukan para malaikat yang akan menghibur kita dan Allah yang setia berjalan dengan kita melalui suka duka kehidupan.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No comments:

Post a Comment