Saturday, September 12, 2015

Enyahlah Iblis!



Minggu Biasa ke-24
13 September 2015
Markus 8:27-35

Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mar 8:33).”

 Ada dua pewahyuan dalam Injil hari ini. Pewahyuan pertama adalah identitas Yesus. Petrus yang terinspirasi oleh Roh Kudus, mengungkapkan bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Pewahyuan yang kedua memang tidak terlalu jelas dan sering dilewatkan, namun sangat penting karena hal ini diungkapkan oleh Yesus sendiri. Ini adalah identitas sang Iblis. Tentang dirinya, Yesus juga memperingatkan kita bahwa setidaknya, ia memiliki tiga karakteristik dasar.
Yang pertama adalah bahwa setan dapat mempengaruhi siapapun juga, tanpa terkecuali. Ketika Yesus menegur dan menyebut Petrus, Setan, tentunya kita tahu bahwa Petrus bukanlah sang Setan itu sendiri. Petrus adalah pemimpin para rasul dan terpilih untuk menjaga Gereja Kristus di bumi ini. Tapi, dengan menyebut Petrus sebagai sang Jahat, Yesus ingin menunjukkan bahwa Setan bisa bekerja di hati setiap orang, dan sering kali tanpa kita sadari. Orang-orang kudus terus digoda olehnya, pemimpin-pemimpin besar Gereja pernah jatuh ke dalam tipu dayanya, dan dengan demikian, kita tidak pernah bisa mengatakan bahwa kita kebal terhadap pengaruhnya.
Karakteristik kedua adalah bahwa Setan ingin selalu menjadi nomor satu dalam hidup kita dan bukan Tuhan. Ketika Yesus berkata kepada Petrus, “Enyahlah dari hadapanku, Iblis. Tampaknya sang Iblis memiliki kecenderungan alami untuk menjadi penghalang utama antara kita dan Tuhan. Dia ingin kita untuk tidak menyembah Allah tapi dia, tidak lagi mendengarkan Allah, tapi dia, dan tidak memanggul salib Kristus, tapi untuk menikmati kesenangan duniawi. Singkatnya, dia membuat kita menyembah berhala. Lalu, apa berhala favorit kita? Beberapa dari kita mungkin menyembah uang dan menghalalkan segala cara, termasuk yang terlarang, hanya untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Beberapa mungkin haus akan kekuasaan dan posisi, dan membenarkan segala cara, termasuk untuk menghasut, mengelabui dan menghancurkan orang lain. Beberapa mungkin memuja tubuh dan kenikmatan seksual, dan dengan demikian, tidak lagi melihat pernihakan sebagai suci dan penting.
Karakteristik ketiga, sangat berhubungan dengan yang kedua, adalah Setan ingin kita untuk membawa Tuhan ke tingkat manusia. Yesus memang Mesias, tetapi identitas dan misi Mesianik-Nya tidak seperti yang ada dalam pikiran Petrus. Sang Rasul mengharapkan Yesus untuk menjadi pemimpin politik dan militer yang akan membebaskan orang Israel dari cengkeraman Kekaisaran Romawi. Tapi, ini bukan Yesus. Konflik bisa saja dihindari jika Petrus mau memahami dan menerima penjelasan Yesus tentang diri-Nya. Namun, masalah sebenarnya adalah Petrus menolak untuk mendengarkan Yesus dan ‘memaksakan’ kemauannya sendiri pada Allah. Sungguh, ini adalah pekerjaan Iblis. Dia membuat kita percaya bahwa kita dapat menciptakan Allah dalam gambar dan rupa kita, manusia, dan bukan kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Cara termudah untuk mendeteksi kecenderungan ini adalah dengan meneliti doa-doa kita. Dalam doa-doa sehari-hari, siapa yang sebenarnya menempati tempat utama? Apakah Dia Allah? Atau, doa kita masih penuh dengan diri kita sendiri? Doa adalah sangat penting, tapi ketika kita mengubahnya menjadi semacam ATM untuk permintaan-permintaan kita, tentunya ada sesuatu yang salah. Profesor kami di University of Santo Tomas, Manila, sering mengingatkan kami bahwa Teologi bisa menjadi sangat berbahaya karena dalam upaya kami untuk memahami-Nya, kami dapat tergoda untuk ‘memaksakan’ Allah masuk ke kepala kami yang kecil. Dengan demikian, sang profesor menyarankan bahwa setelah studi teologi, kita perlu pergi ke kapel dan meminta pengampunan Allah karena kami telah mencoba untuk menempatkan Dia dalam pikiran kita terbatas.
Kita berterima kasih kepada Yesus karena telah mengungkapkan identitas dan misi sang Musuh. Dia dapat mempengaruhi semua orang, engkau dan aku. Dia ingin menjadi tuhan dalam hidup kita. Dan, dia memperdayai kita untuk percaya bahwa kita dapat menciptakan Allah dalam rupa kita. Mari kita ingat tiga hal ini dan dengan rahmat Allah, kita berani berseru, “Engyahla, Iblis!”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No comments:

Post a Comment